Antara Zuhud dan Miskin

Oleh Ust. Hepi Andi Bastoni

Umar bin Khaththab mungkin tidak termasuk sahabat Nabi saw yang akhir hayatnya berlimpah anugerah kekayaan dibanding yang lain. Namun ia tidak miskin. Sebab kalau ia mau, sebagian kekuasaan Persia sudah berada dalam genggaman kaum Muslimin saat itu. Kota Madain yang bergelimang perhiasan berhasil ditaklukkkan pasukan Saad bin Abu Waqqash di bawah kekhalifahan Umar bin Khaththab. Umar tidak miskin. Ia zuhud.

Secara penampilan, zuhud dan miskin mungkin mirip. Tapi substansinya jauh berbeda. Zuhud itu muncul pascakaya. Ia bisa kaya tapi tidak mau. Sedangkan miskin itu prakaya. Ia tidak bisa kaya.

Secara gamblang, makna zuhud terumus dalam dua kalimat dalam al-Qur’an. Allah berfirman,
Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu,” (QS al-Hadid: 23).

Dari ayat ini, ada dua hal yang menjadi ciri mereka yang menjadikan zuhud sebagai pola hidup.

Pertama, tidak menggantungkan kebahagiaan hidup pada apa yang dimiliki. Bila kebahagiaan ditambatkan pada kendaraan yang dimiliki, kala kendaraan itu tergores, hilanglah bahagia yang bersemayam di dada. Jika hati dilabuhkan pada rumah yang ditempati, saat kediaman itu hilang, terlepaslah kebahagiaannya.

Kedua, kebahagiaan orang yang zuhud tidak terletak pada tumpukan materi, tapi tersimpan pada dataran spiritual. Hidup akan menjelma menjadi guyonan yang mengerikan bila makna bahagia disandarkan pada benda. Sebab, benda selalu menunggu waktu untuk lenyap. Allah mengingatkan dalam firman-Nya,

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan,” (QS ar-Rahman: 26-27).

Dengan demikian, hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkannya di hati. Sebab, dibanding kebahagiaan akhirat, kekayaan duniawi amatlah sedikit.

مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
”Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya dalam lautan besar, maka perhatikan berapa dapatnya,” (HR Muslim No 7126).
Al-Imam an-Nawawi menerangkan, “Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.”

Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia tak kan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal.

Karena itu, zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal. ”Zuhud terhadap kehidupan dunia tidak menganggap yang ada pada dirimu lebih pasti dari yang ada pada Allah SWT dan hendaklah engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu,” (HR Ahmad).
Dalam hadits Qudsi, diriwayatkan, ”Allah berfirman, ‘Wahai dunia, berkhidmatlah kepada orang yang telah berkhidmat kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu,’” (HR al-Qudhai).

Jadi, rumus hidup bahagia adalah kemampuan memilih nikmat yang abadi di atas kenikmatan yang fana. Bagaimana supaya baju zuhud dapat dikenakan? Ibrahim bin Adham pernah ditanya tentang bagaimana mencapai zuhud. Ia menjawab, ”Ada tiga sebab. Saya melihat kuburan itu mengerikan, sedangkan belum kudapati pelipur (atasnya). Saya melihat jarak perjalanan amatlah jauh, padahal belum kumiliki bekal, dan saya melihat Allah yang Maha perkasa akan mengadili, padahal belum kudapati alasan (untuk mengelak dari hukumannya).”

Abul Abbas Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi pernah bertutur, “’Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw seraya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tunjukanlah kepadaku suatu amal (pekerjaan) yang jika aku mengamalkannya aku dicintai Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah saw bersabda,
اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ
Artinya : ”Zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu,” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Target akhir setiap amal seorang hamba ialah mengharapkan ridha dan cinta dari Allah. Hadits di atas mengajarkan kepada kita bahwa salah satu cara mendapatkan kecintaan Allah dan juga kecintaan manusia adalah dengan bersifat zuhud terhadap dunia. Sebab, zuhud merupakan salah satu bagian dari ketaatan dan Allah mencintai orang yang menaatinya. Dengan zuhud terhadap dunia, berarti kita hanya mengisi relung hati kita dengan kecintaan kepada Allah.

Orang yang mencintai dunia, di ruang hatinya akan terisi dengan kecintaan terhadap dunia, sehingga tidak mungkin hatinya menyatu dengan kecintaan Allah. Sebaliknya, orang yang menjadikan dunia hanya di tangan, akan menyimpan ruang di hatinya untuk cintanya pada Allah.

Zuhud berarti tidak berambisi terhadap dunia namun bukan bermakna hidup dalam kemelarat. Sufyan ats-Tsauri berkata, ”Zuhud adalah pendek angan-angan, tapi bukan memakan makanan yang tidak enak dan mengenakan pakaian yang jelek.”

Hidup zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali, tetapi kita menjadikan dunia sebagai wasilah untuk mencapai kehidupan bahagia di akhirat nanti. Kita bisa menganalogikan jika kita akan bepergian ke suatu tempat, tentunya kita akan membawa perbekalan yang hanya dibutuhkan selama perjalanan guna mencapai tujuan tersebut, sehingga ketika kita membawa bekal yang tidak dibutuhkan tentunya hal ini akan merepotkan dalam perjalalan kita.

Begitupun dengan dunia dan akhirat, kita mencari dunia sebatas untuk menyampaikan kita ke kehidupan yang bahagia di akhirat. Dalam al-Qur’an dan hadits banyak sekali ayat yang menyatakan bahwa dunia merupakan sesuatu yang sementara sifatnya. Allah berfirman, “… Kesenangan di dunia ini hanyalah sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun,” (QS an-Nisa: 77).

Dunia yang disebutkan dalam al-Qur’an maupun hadits, bukan tertuju pada segala hal yang menyangkut dunia, baik berupa waktu (siang dan malam), tempat (daratan, lautan, dan udara), maupun makhluk yang berada di dalammya. Akan tetapi cercaan tersebut pada dasarnya ditujukan pada sikap dan prilaku manusia di dunia yang cendrung terhadap kehidupan dunia dan lupa akan akhirat.

Betapa indahnya jika kita bisa meletakkan dunia hanya di tangan, bukan di hati. Dengan demikian, segala ambisi duniawi bisa dipangkas dan diubah menjadi orientasi ukhrawi. Dunia itu ladang. Sebagian buahnya mungkin belum bisa kita petik di dunia, tapi kelak pasti di akhirat.

Wallahu a’lam

______________________

sumber : www.hepiandi.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim)



Kajian Terpilih